Sate Klathak Yogyakarta Bukan Sate Biasa
![]() |
| Sate Klatak Yogyakarta. Foto via penadigitalindonesia.files.wordpress.com |
Jalan-jalan ke Yogya rasanya belum lengkap tanpa menikmati sate
klathak khas Pasar Jejeran, Wonokromo, Pleret, Bantul. Selain di Pasar Jejeran,
sate klathak sangat mudah ditemukan di sepanjang jalan Imogiri Timur. Sajian
yang satu ini telah menjadi ikon kuliner Yogya selain gudeg dan bakpia.
Sate klathak ialah sate kambing yang hanya dibumbui dengan
garam dan bawang putih. Tidak hanya itu, tusuknya tidak menggunakan bambu
seperti sate pada umumnya, melainkan jeruji sepeda. Unik bukan? Kesederhanaan bumbu pada sate klathak untuk
menjaga citarasa asli dari daging. Meskipun demikian, aroma prengus atau bau kambing tidak tercium. Rasa
gurih dan asin lebih dominan di mulut. Bagi Anda yang tidak terlalu suka bisa
minta ditambahkan kecap manis.
Daging pun terasa lebih empuk karena menggunakan jeruji besi.
Panas bara yang dihantarkan melalui batang besi lebih optimal dibandingkan
dengan bambu. Selain itu, dengan jeruji besi daging dapat diletakkan di tengah
bara api. Dengan demikian, bagian
dalam daging pun dapat matang dengan sempurna. Daging matang tanpa gosong di
bagian luar dan juicy di dalam.
Sate Klathak awal
mulanya hanya terdapat Pasar Jejeran. Pemiliknya adalah Mbah Ambyah, yang telah
berjualan di dalam pasar sejak 1945. Seiring berjalannya waktu, penikmat sate
klathak semakin bertambah. Kondisi ini diikuti oleh semakin bertambahnya
penjual sate klathak di daerah Jl Imogiri Timur. Soal asal mula nama sate klathak ada beberapa
versi. Ada yang mengatakan “klathak” berasal dari bunyi saat sate dibakar. Ada
juga yang mengatakan bahwa “klathak” berasal dari melinjo yang jatuh, sebab
tempat berjualan Mbah Ambyah berada di bawah pohon melinjo.
Kini, usaha Mbah
Ambyah diteruskan oleh para keturunannya. Dari tujuh orang keturunan Mbah
Ambyah, enam orang meneruskan usaha Sate Klathak di Pasar Jejeran. Usaha ini
pun sudah sampai pada generasi ketiga, salah satunya Pak Bari. Warung Pak Bari buka pada 18.30 sampai
dengan 01.00. Dalam satu hari, Pak Bari menyediakan dua ekor kambing usia 8-9
bulan.
Satu porsi sate
klathak terdiri dari dua tusuk. Jangan bayangkan seperti porsi sate pada umumnya. Satu tusuk sate berisi
6-7 potong daging yang ukurannya besar. Biasanya, satu porsi sate klathak
disajikan dengan kuah gulai yang gurih. Satu porsi sate klathak dihargai Rp 12
ribu. Selain sate klathak, terdapat sajian olahan lain seperti gulai,
tengkleng, tongseng daging dan kepala. Sambil menunggu pesanan, Anda bisa duduk
lesehan sembari menikmati teh poci atau jeruk panas dengan gula batu. [M. Sofwan Hadi]


Komentar
Posting Komentar