Tengkleng: Makanan Kere Munggah Bale
Sebagai
kota budaya, Solo menyimpan ragam kuliner yang menggugah selera, mulai dari
serabi hingga nasi liwet yang melegenda. Tempat yang mudah untuk menemukan
sajian kuliner adalah pasar, salah satunya Pasar Klewer. Di sana, Anda dapat
menemukan makanan paling dicari, yakni Tengkleng.
Tengkleng
berbahan dasar tulang, kepala, jeroan, dan kaki kambing. Kenikmatan menyantap
tengkleng terletak pada saat menggigit daging yang menempel dan menghisap sumsum
di dalam tulang. Tengkleng juga nikmat dinikmati dengan atau tanpa nasi.
Berbeda
dengan gulai kambing, kuah tengkleng tidak menggunakan santan sehingga lebih
bening. Kuahnya bercita rasa pedas-manis dengan bumbu bawang merah, putih,
kemiri, merica, ketumbar, lengkuas, jahe, dan cabe rawit.
Konon,
tengkleng adalah makanan kere atau
rakyat jelata karena tidak bisa menikmati sajian daging seperti sate dan
tongseng. Namun, dalam perjalanannya, tengkleng menjadi makanan primadona.
Tengkleng menjadi salah satu makanan yang paling diminati. Tengkleng kini telah
munggah bale (naik pangkat).
Salah
satu warung tengkleng terkenal di Pasar Klewer adalah warung Tengkleng Solo Bu Edi.
Warung ini terletak di sisi utara gapura Pasar Klewer. Warung Tengkleng Bu Edi
buka mulai pukul 13.00. Tempatnya sederhana karena hanya menempel di dinding
gapura, berpenutup terpal. Bagi pelanggan yang datang disediakan dua buah kursi
panjang tanpa meja.
Meskipun
tempatnya sederhana, Warung Tengkleng Bu Edi selalu diserbu pembeli. Pembelinya
pun beragam dari pedagang pasar hingga pejabat. Biasanya, pembeli memesan untuk
dibawa pulang. Menariknya lagi, Anda bisa menyantap ditempat menggunakan sajian
pincuk daun pisang.
Bu
Edi mulai berjualan di Pasar Klewer mulai 1970-an meneruskan usaha ibu dan
neneknya. Dalam sehari bu Edi mampu menjual 4-5 panci besar. Menu yang paling
diminati oleh pembeli adalah tengkleng iga, lidah, sumsum, kaki, mata, dan
pipi. Harga satu porsinya berkisar antara Rp 15.000 – Rp 30.000. [M. Sofwan Hadi]
Sumber Foto: Solopos.com

Komentar
Posting Komentar