Rasa India di Oslo, Norwegia
Norwegia merupakan negara di Skandinavia yang terkenal dengan biaya hidup tinggi. Sekali pergi ke tempat makan, mungkin bisa menghabiskan 100-500 Nok (1 Nok sama dengan Rp 1.700). Bagi mahasiswa yang memanfaatkan beasiswa memang tidak disarankan untuk berbelanja makanan setiap hari. Umumnya, mereka akan membawa makanan dari rumah selama beraktivitas di luar. Namun bagi orang Asia yang terbiasa dengan makanan berempah, roti, selai, daging asap dan telur tentu sedikit membosankan.
Bila merindukan masakan ber-rempah, maka Punjab Tandoori bisa menjadi pengobatnya. Mendengar namanya saja kita bisa tahu bahwa restoran ini menyediakan makanan khas India. Letak restoran yang berdiri tahun 1990 ini berada di pusat Kota Oslo, ibu kota Norwegia. Tepatnya di Grondland, yang menjadi pusat bagi para pendatang Asia Selatan, Asia Tenggara, Timur Tengah dan Somalia. Bila pergi ke kawasan ini, kita pun bisa mencari bahan makanan khas Asia. Terutama bagi yang beragama Islam, banyak toko menyediakan daging berlabel halal.
Restoran Pujab Tandoori menyediakan beraneka menu di India dengan harga yang beragam pula. Tetapi satu menu yang mungkin wajib dicoba adalah kari. Masakan India terkenal dengan pedas, namun karena ada penyesuaian dengan cita rasa Norwegia, rasa kari pun cenderung lembut. Rempah kapulaga biasanya juga kuat, lebih tersamarkan. Pada penyajiannya, kari akan bersanding dengan chapati, nasi serta salad sayur bersaus bawang putih dan sambal mint. Selain kari bagi ayam atau kambing, restoran ini juga menyediakan beberapa menu makanan yang bisa dilihat di sini: http://www.punjabtandoori.no/#menu-item-68
Karena berada di kawasan pendatang Asia, maka restoran ini tak hanya dipenuhi oleh orang Norwegia saja. Salah satu yang menarik adalah perbedaan cara makan, seperti yang saya amati. Di beberapa restoran di Oslo, sekalipun rumah makan Kebab dari Timur Tengah, mereka sangat jarang menyediakan sendok. Namun di Punjab Tandoori berbeda. Restoran ini menyediakan semuanya, sendok, garpu dan pisau.




waw, betul-betul tulisan kuliner yg Laras. Witing tresna memang jalaran seka kuliner....
BalasHapusYang penting, apapun makanannya, minumnya tetap jangan deket-deket Munarman. #eh
Sori komentar wong luwe. hehehe. Semoga tetap sehat, bugar, dan bahagia, Laras...
hehe aman mergo mangan,crah amarga ngelih. Munarman ra tahu sarapan kse Gus.
BalasHapusMonggo ditenggo kabar dr Temanggung,.